Sumber : Istimewa
AMG Kiu - Musisi pendatang baru, Rayssa Dynta baru saja merilis Allegory: Act II yang berisikan dua lagu, yaitu lagu berjudul The Unusual dan Not Anymore. Proyek musik tersebut adalah kelanjutan dari Allegory: Act I yang dikeluarkan oleh Rayssa Dynta tahun lalu.
Musisi berusia 26 tahun tersebut sebenarnya telah merencanakan proyek Allegory sejak akhir tahun 2019. Mulanya, dia ingin mengeluarkan lagu-lagu yang ia rilis bertahap dalam proyek tersebut sebagai sebuah album.
Akan tetapi, hal-hal yang tidak diinginkan memang kerap datang. Adanya pandemi virus Corona yang masuk ke Indonesia pada awal tahun 2020 membuat Rayssa Dynta ragu untuk mengeluarkan semua lagunya secara langsung dalam satu album.
"Sebenarnya kami ingin rilis album seperti biasa lah, digabung, terus nanti manggung atau tur, tapi kebetulan ada si pandemi ini, terus kami nggak bisa melakukan rencana awal. Kalau dulu kan kita kalau dengerin album on the way ke kantor atau commuting naik kereta, banyak orang yang kehilangan waktu itu kan, karena nggak ada communting lagi. Aku memutuskan rilisnya sepotong-potong," ungkap Rayssa Dynta dalam sebuah wawancara.
Rayssa Dynta mengungkapkan, saat dia mengeluarkan lagunya secara bertahap, para pendengarnya akan memiliki lebih banyak waktu untuk mendengarkan lagunya secara utuh dan secara seksama.
"Lebih mudah untuk menikmati aja. Karena untuk merilis satu album yang panjang nggak semua orang punya waktunya. Jadi gimana caranya pendengar-pendengarku bisa nikmatin lagu-lagu ini dengan nyaman in their own time," tutur dia.
Dalam proyek musiknya kali ini, Rayssa Dynta mengaku lebih banyak menggali musiknya ketimbang dalam pembuatan mini album perdananya yang berjudul Prolog.
Untuknya, hal tersebut terjadi dengan sendirinya karena dirinya pun lebih banyak belajar setelah mendapatkan berbagai pengalaman di dunia musik.
"Sebagai musisi, sudah main beberapa tahun ini, eh punya pengalaman, ada rasa penasaran, ingin deh main pakai instrumen ini atau nyoba main yang seru-seru sebelumnya. Ingin punya lagu yang kemarin di Prolog nggak ada nih, a missing puzzle piece, kami coba-coba saja," ungkap Rayssa Dynta.
Keinginan musisi asal Jakarta ini adalah untuk lebih bereksplorasi dalam hal musik itu yang akhirnya menjadi pembeda antara mini album Prolog dengan karyanya yang sekarang.
"Yang membedakan Prolog sama Allegory ini lebih eksperimental sih, karena kemauannya sudah mulai menumpuk, jadi kayak pengen ini, pengen itu. Kebetulan dari record label juga sangat didukung untuk ekspresif." pungkas Rayssa Dynta.
Situs Poker Online | Domino 99 | Bolatangkas Online | AMG Kiu




0 Comments