I Wayan Mustika selaku Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda menyebutkan bahwa terdapat puluhan kabupaten/kota di Jawa Timur yang berpotensi dilanda hujan lebat disertai petir dan angin kencang dalam beberapa pekan ke depan. Hal tersebut diakibatkan dari anomali iklim La Nina.
”Anomali iklim La Nina menyebabkan awal musim hujan lebih cepat dan terjadi peningkatan curah hujan di atas normal atau lebih dari 25 persen,” ucap I Wayan Mustika seperti dilansir dari Antara di Kantor BMKG Juanda.
Sementara untuk beberapa wilayah di Jawa timur yang terdampak anomali iklim La Nina masing-masing antara lain Kabupaten dan Kota Malang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Banyuwangi, dan Kabupaten Trenggalek. ”Selain itu juga ada Kota Batu, Kabupaten Jember, Kabupaten Jombang, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten dan Kota Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten dan Kota Blitar, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo, Kabupaten dan Kota Mojokerto, Kabupaten Pacitan, dan Kabupaten Ngawi,” jeIas Wayan Mustika
Dia menyebutkan bahwa selain adanya anomali iklim La Nina juga akan terdapat beberapa gangguan atmosfer lain yang dapat mempengaruhi peningkatan curah hujan seperti Madden Julian Oscillation (MJO). ”MJO ini akan meningkatkan intensitas hujan yang lebat dengan disertai kilat atau petir dan angin kencang,” ucap I Wayan Mustika.
Dia menyebutkan bahwa perlu diwaspadai tentang adanya gelombang tinggi untuk beberapa hari ke depan yakni di perairan selatan Jawa Timur dan Samudera Hindia, selatan Jawa Timur dengan ketinggian gelombang yang mencapai 3,5 meter. ”Selain itu itu juga diperkirakan terjadi cuaca buruk di wilayah Laut Jawa bagian utara Bawean, Laut Jawa bagian selatan Bawean, perairan Tuban-Lamongan, perairan Gresik-Surabaya, perairan Kepulauan Sapudi, dan perairan Kepulauan Kangean,” ujar I Wayan Mustika.
Dia juga mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati terhadap dampak bencana hidrometeorologi yang dapat ditimbulkan yaitu banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, sambaran petir, pohon tumbang, dan jalan licin.
”Perlu diperhatikan juga mengenai tata kelola air secara terintegrasi dari hulu hingga hilir termasuk gerakan panen air hujan dan penyesuaian tata kelola tatanan global. Selain itu, masyarakat perlu menambah pemahaman tentang mitigasi kebencanaan dan tetap tenang serta waspada dalam menyikapi informasi yang ada,” ucap I Wayan Mustika.





0 Comments